bandar

Kode Saham Akan Dihilangkan, Ini Kata Pakar Bandarmology

Kalangan pelaku pasar sekaligus pakar bandarmology memberikan respons terkait dengan rencana Bursa Efek Indonesia yang berencana menghapus kode perusahaan sekuritas saat perdagangan berlangsung. Nantinya, kode broker baru juga akan terlihat setelah perdagangan berakhir.

Praktisi investasi sekaligus penulis buku Bandarmology, Ryan Filbert, mengatakan dari sudut pandang otoritas bursa dan Self Regulatory Organization (SRO) kebijakan penutupan kode broker saat transaksi bertujuan untuk menghilangkan praktik pembelian – pembelian saham oleh kode broker yang dianggap sebagai market marker.

“Secara pemula iya, bisa berpikir begitu [mempengaruhi ke transaksi], tapi untuk pemain lama, mentransfer saham itu bukan suatu hal yang sulit, saya bisa pindahkan ke tempat lain hanya dengan bayar Rp 25 ribu dengan berapapun jumlahnya bisa saya transakasikan, sehingga secara tidak langsung, proses distribusi atau akumulasi sebenarnya tidak related dengan nama broker,” kata Ryan Filbert, Selasa 24 Februari 2021.

Ryan cenderung bersikap netral merespons kebijakan yang sedang digodok oleh BEI ini. Pasalnya, penghapusan ini relative tidak akan berpengaruh bagi investor yang sudah lama berkecumpung transaksi di pasar modal.

“Jadi pendapat saya cukup netral, dalam kondisi tidak membuat orang ikut-ikutan membeli dalam suatu berita yang bagus, tapi di sisi lain tidak berlaku bagi pemain senior,” ujarnya.

Sebelumnya, BEI akan melakukan penutupan kode broker dalam sistem running trade mulai 26 Juli 2021 nanti.

Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo, pertimbangan dilakukan kebijakan ini terutama untuk mengurangi adanya kebiasaan menggiring (hearding behavior) pasar ke saham – saham tertentu. Selain itu juga untuk meningkatkan data kelola pasar.

“Meningkatkan market governance dengan mengurangi herding behaviour,” kata Laksono kepada CNBC Indonesia, Rabu 24 Februari 2021.

Pertimbangan lainnya adalah dari segi teknis. Laksono menyebut dengan ditutupnya kode broker ini akan dapat mengurangi kebutuhan bandwidth data.

Karena tingginya kebutuhan bandwidth ini menyebabkan keterlambatan aktivitas trading mengingat tingginya frekuensi perdagangan akhir – akhir ini.

Laksono menegaskan, penutupan kode broker ini merupakan best practice yang juga dilakukan di bursa saham lain.

Saham Blue Chip Ini Jorjoran Dilepas Bandar Besar

Saham – saham emiten blue chip alias unggulan ramai – ramai dilepas investor asing pada perdagangan Rabu 24 Februari 2021 kemarin yang cukup banyak.

Hal ini membuat Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup terkoreksi. Data BEI mencatat, ada 198 saham naik, 275 saham turun, dan 169 saham stagnan.

Nilai transaksinya sendiri mencapai Rp 16,98 triliun dan volume perdagangan 30,57 miliar saham dengan frekuensi 1,42 juta kali.

Investor asing tercatat masuk ke pasar saham di Indonesia dengan pembelian bersih mencapai Rp 245,69 miliar di pasar regular.

Asing juga mencatatkan aksi beli bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 56,51 miliar. Walau begitu, ada beberapa saham yang cukup banyak dilepas asing pada perdagangan Rabu kemarin di pasar regular.

  • Bank Central Asia (BBCA), net sell Rp 150 M, saham -1,47% Rp 33.625
  • Astra International (ASII), Rp 129 M, saham -1,75% Rp 5.625
  • Indofood CBP (ICBP), Rp 52 M, saham +1,17% Rp 8.650
  • Bank Mandiri (BMRI), Rp 30 M, saham +0,79% Rp 6.375
  • Indofood Sukses (INDF), Rp 19 M, saham +0,83% Rp 6.100
  • United Tractors (UNTR), Rp 17 M, saham -2,49% Rp 22.550
  • Indocement (INTP), Rp 11 M, saham -1,51% Rp 13.075
  • Mitra Pinasthika (MPMX), Rp 11 M, saham +0,93% Rp 540
  • Sumber Alfaria (AMRT), Rp 7 M, saham +15,52% Rp 1.005
  • Semen Indonesia (SMGR), Rp 7 M, saham -1,67% Rp 10.275

Saham Bank Central Asia menjadi saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing dimana nilai penjualan hingga Rp 150 miliar di perdagangan kemarin.

Walau begitu, koreksi harga sahamnya tak signifikan, hanya 147% ke level Rp 33.625/saham. Dalam sebulan terakhir saham bank Grup Djarum ini minus 1,39%.

Saham Astra Internasional juga banyak dilepas asing mencapai Rp 129 miliar karena sahamnya hanya terkoreksi 1,75% ke level Rp 5.625 / saham. Sebulan saham ASII minus 11,42%.

Saham Bank Mini Melonjak, Tipuan Bandar?

Merebaknya isu lembaga keuangan asing mencaplok bank – bank kecil di tanah air membuat pergerakan harga saham bank BUKU II kompak menggeliat.

Namun, investor tetap harus mewaspadai potensi terjadinya penurunan harga saham kembali yang cukup signifikan jika rumor pasar tersebut belum teruji kebenarannya.

Head of Investment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe berpendapat, kenaikan beberapa harga saham bank-bank kecil akhir-akhir ini cenderung lebih disebabkan oleh rumor pasar.

Terbaru, misalnya, induk perusahaan Shopee, SEA Group dikabarkan tertarik membeli PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA), dan PT Bank Capital Tbk (BACA) yang kabarnya diincar oleh OVO.

Kiswoyo tidak menampik, jika banyak lembaga keuangan asing melirik bank-bank kecil untuk diakuisisi, mengingat saat ini dari sisi marjin bunga bersih / net interest margin (NIM), Indonesia masih yang terbesar di dunia di atas 3%.

“Saham bank kecil pergerakannya, rumornya lagi mencoba diakuisisi pihak asing. Perbankan di Indonesia saat ini NIM-nya tertinggi di dunia sehingga menarik bagi asing. Di luar negeri, NIM 3% saja susah,” katanya, kepada CNBC Indonesia, Rabu 17 Februari 2021.

Walau begitu, kenaikan yang terjadi belakangan ini patut dicermati investor. Karena, bisa dilihat dari sisi valuasinya, bank – bank kecil itu kurang menarik dan dari sisi fundamental belum tentu kuat.

“Price to book value/PBV 1 kali, tidak menarik, begitu ada isu akuisisi, yang masuk trader yang berspekulasi, beli duluan. Ketika isu dibantah ya bisa langsung drop lagi,” katanya.

Di sisi lain, jika bank bank kecil tadi masuk ke bank digital, saat ini belum ada perangkat yang bisa mengukur suatu valuasi bank digital di Indonesia.

Bila bank-bank konvensional sekelas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan valuasi 4-5 kali nilai buku sudah termasuk paling mahal, maka, untuk bank digital saat ini belum bisa disandingkan perhitungan valuasinya menggunakan skema PBV.

“Normal pakai PBV, bank digital belum ada yang memvaluasi di Indonesia,” kata dia. Sebelumnya, saham-saham bank mini melesat cukup kencang seperti PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) dan PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) yang keduanya terbang 35% ke level Rp 108 per saham.